rtertert

  • Post Title

    Category

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s,when an unknown printer…

    ’Buton’

  • Post Title

    Category

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s,when an unknown printer…

    ’Buton’

  • Welcome to my blogger friends
    Fun Lucky

    Total Pageviews

    You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

    Blogger news

    Search

    Blogger templates

    Blogroll

    Apa yang harus diperbaiki dalam blog ini?

    Powered By Blogger
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Popular Posts

    About Me

    Foto Saya
    cha_icha
    saya adalah seseorang yang memiliki ciri tersendiri... bagaimanapun saya, hanya mereka (orang" yang mengenal serta mengerti saya) yang tahu akan diri saya...
    Lihat profil lengkapku

    About Me

    Foto Saya
    cha_icha
    saya adalah seseorang yang memiliki ciri tersendiri... bagaimanapun saya, hanya mereka (orang" yang mengenal serta mengerti saya) yang tahu akan diri saya...
    Lihat profil lengkapku

    Followers

    Entri Populer

    Sabtu, 03 Desember 2011

    Puisi

    GURU KAMI TERCINTA

    Wahai guru 
    Kau tak pernah lelah untuk mengajar kami 
    Mengajar semua ilmu-ilmu yang kau ketahui 
    Kau selalu berusaha memberi yang terbaik untuk kami 
    Untuk masa depan kami 

    Guru Meski kau telah banyak kami kecawakan 
    Kau selalu hadir untuk kami 
    Sabar... untuk membimbing kami 

    Guru 

    Kau telah buat kami mengerti akan cita-cita 
    Memberi impian untuk kami gapai 
    Dan harapan untuk semangat kami 

    Guru 

    Terima kasih atas semua bimbinganmu 
    Jasamu 
    Dan semua yang telah kau beri pada kami 
    Kau adalah inspirasi untuk kami 
    Kau adalah motivasi untuk kami 
    Hingga kami tau dan mengerti 

    Terima kasih guru, 
    karnamu kami dapat menggapai cita-cita serta keinginan kami 


    By : Rica Istiqamah

    Report Text


    REPORT TEXTS

    An elephant is the largest and strongest of all animals. It is a strange looking animal which it has thick legs, huge sides and backs, large hanging ears, a small tail, little eyes, long white tusks and above all, elephant has a long nose, the trunk.
    An elephant is commonly seen in a zoo, it has hard found in it natural habitat. The trunks is the elephant’s peculiar feature. This trunk has various usage. The elephant draws up water by its trunk and can squirt the water all over its body like a shower bath. The elephant’s trunk also lift leaves and put them into its mouth. In fact, the trunk serves the elephant as long arm and hand. An elephant looks cery clumsy and heavy and yet an elephant can move very quickly.
    The elephant is very intelligent animal. Its inteligance combined with its great strength makes an elephant a very useful servant to man. Elephant can be trained to serve in various ways such as carry heavy loads, hunt for tigers and even fight. An elephant is really a smart animal.

    Gajah adalah yang terbesar dan terkuat dari semua binatang. Ini adalah hewan tampak aneh yang memiliki kaki tebal, sisi besar dan punggung, telinga menggantung besar, ekor kecil, mata kecil, taring putih panjang dan di atas semua, gajah memiliki hidung yang panjang, bagasi.
    Gajah sering terlihat di kebun binatang, telah sulit ditemukan di dalamnya habitat alami. Batang pohon adalah fitur khas gajah. Batang ini memiliki berbagai penggunaan. Gajah menarik sampai air dengan belalainya dan bisa menyemprotkan air ke seluruh tubuhnya seperti mandi shower. Belelai gajah juga mengangkat daun menempatkan mereka ke dalam mulutnya. Bahkan batang berfungsi gajah sebagai lengan panjang dan tangan. Gajah terlihat sangat canggung dan berat dan belum gajah dapat bergerak sangat cepat.
    Gajah adalah binatang yang sangat cerdas. Kecerdasannya yang dikombinasikan dengan kekuatan besar yang membuat gajah seorang hamba yang sangat berguna untuk manusia. Gajah dapat dilatih untuk melayani dalam berbagai cara seperti membawa beban berat, perburuan harimau dan bahkan berkelahi.gajah benar-benar hewan yang cerdas.




    Puisi


    Hilang Tak Ada Harap

    Disini ku merenungi
    Ketika dirinya mulai pergi...jauh dari hidupku
    Hidup yang sekarang sepi
    Menunggu dia yang tak ujung kembali

    Sedih... sepi di hatiku
    Tak akan buat dirinya kembali

    Semua telah hilang
    Hilang dan tak dapat kugapai

    Seakan menggapai bintang dilangit
    Tampak.... namun jauh dimata

    Itulah aku
    Kenyataan pahit karna diriku
    Kecewa karna egoisku...

    By : Rica Istiqamah

    Karyaku

    Senyum Tulus Seorang Wanita

           Dalam sebuah cerita, dikisahkan kehidupan dua insan  yang hidup dalam satu atap kebahagiaan. Tertuliskan kisahnya dua insan sejati (sehidup semati) dengan kesetiaan kasih dan sayangnya.
    Pada suatu hari yang sepi, hiduplah pasangan suami istri yang tinggal di seberang kota berada. Dengan keindahan serta kemegahan rumah yang mereka tempati. Dengan harta melimpah dan dengan pekerjaan yang “WAH”.
    Bernama Achmad, seorang laki-laki yang sangat beruntung memiliki istri yang sangat menyayanginya. Tak lebih hanya karyawan di suatu perusahaan yang menjadi profesinya. Kehidupan yang serba terpenuhi, tak membuat Achmad menyerah untuk meneladani pekerjaannya. Seorang istri bernama Istiqamah, yang setia akan hidup bersama suaminya. Pekerjaan yang lebih tinggi dari suaminya, tak membuat Istiqamah merasa tinggi hati untuk merendahkan diri suaminya.
    Semakin berlalunya hari, Achmad belum bisa untuk menjadi kepala keluarga yang semestinya (mencukupi kehidupannya serta istrinya dengan kerja keras dari keringatnya sendiri). Suatu ketika istrinya berkata “Ayah, sebaiknya ayah berhenti bekerja. Semuanya sudah tercukupi dengan apa yang sudah kita miliki sekarang”. Dalam lamun, Achmad merasa malu dan berkata pada istrinya “Ibu, aku masih ingin bekerja. Karna tugasku sebagai kepala keluarga disini”. Setelah dia bicara pada istrinya, tetap saja Istiqamah masih memaksa suaminya. Dan akhirnya Achmad melepaskan pekerjaannya karna sang istri.
    Dari waktu kewaktu yang mereka jalani, tak lepas dengan berbagai omongan-omongan dari tetangga yang ada di dekat mereka. Suatu hari Achmad mendengar pembicaraan tetangganya kepada dirinya. Dengan seenaknya mereka berkata “Enak ya hidupnya Pak Achmad, dirumah tanpa bekerja dan hanya menunggu istrinya pulang kerja”. “Iya ya, kenapa Bu Istiqamah mau dengan Pak Achmad yang seperti itu?”.
    Setelah mendengar hal itu, Achmad pun bercerita pada istrinya. Tampak kesedihan dalam wajah sang istri, atas semua perkataan dari tetangganya. Begitu juga pada diri Achmad, yang semakin sedih melihat istrinya sedih.
    Seminggu kemudian, istrinya jatuh sakit serta dirawat di UGD sampai beberapa bulan. Selama itu, Achmad selalu setia menemani sang istri di Rumah sakit. Menjaga, merawat serta menemaninya dengan sepenuh hati. Selama itu Achmad menemani istrinya, dan mendengar “Sangat beruntungnya Bu Istiqamah, karna ia telah  memiliki suami sebaik Pak Achmad”. Bukan kesedihan, tapi bahagia yang Istiqamah dapatkan. Karna sakit yang dideritanyalah yang membuatnya bahagia.


    Wednesday, November 30, 2011

    Taukah Kita ?


    “Teh Poci”

    D:\Tehpoci2.jpgDidapatkan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Seperti di kota Jogja. Setiap malam, terutama sepanjang jalan Malioboro, akan terlihat banyak sekali tempat-tempat minum teh yang biasa disebut “angkringan”. Masyarakat dari berbagai kalangan dan status sosial seperti pengemudi becak, pedagang asongan, seniman dan pelajar/mahasiswa,tak segan-segan berkumpul dan mengobrol dengan santainya di tempat ini.

    Angkringan ini awalnya hanya tempat untuk minum teh sambil mengaso, tetapi pada perkembangannya, angkringan juga berfungsi sebagai warung makan sekaligus tempat bersantai. Walaupun sudah tersedia aneka macam makanan dan minuman, “wedang teh” tetap menjadi menu utama dari angkringan ini. Miniman teh yang menjadi favorit para pengunjung adalah “Nasgitel”, kepanjangan dari “panas-legi-kenthel”atau “panas manis dan kental”.
    D:\angkringan_4.jpgJenis teh dan cara meminum hidangan :
    Nasgitel menggunakan “teh merah” atau “teh hitam” yang dipadu dengan ”gula batu” yang sangat manis. Penyajiannya biasanya berupa kotokan (daun teh kering) yang diseduh dengan air mendidih, disajikan dalam gelas plus beberapa butir gula batu yang disajikan berbeda.
    Setelah seduhan teh dihidangkan, pelanggan biasanya segera mencemplungkan gula batu kedalamnya. Proses ini sampai dengan wedang teh siap diminum memerlukan waktu ± 10 menit, sambil menunggu biasanya pelanggan akan menikmati maknan kecil seperti ketela goreng, pisang goreng, singkong rebus, uli (juadah) dan lain sebagainya.
    Uniknya, para pedegang angkringan tidak pernah mempermasalahkan waktu. Para pelanggan seringkali menikmati teh semalam suntuk sambil mendengarkan siaran radio yang dibawa oleh pedagang angkringan tersebut. Tanpa rasa kesal, pedagang angkringan akan tetap melayani walaupun tagihannya tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah per orang.

    Kisah Dalam Diri


         Sepersekian senja yang hendak menjemput letihku dari tempat kerja. Peluh keringat serupa manik-manik air mata yang melekat di tiap inci tubuhku. Sungguh bukanlah inginku menjadi buruh cuci mobil yang selalu bercengkrama dengan air dan busa, setiap hari bahkan setiap jam. Lelah! Mungkin itulah kata yang pas untuk seseorang yang hanya lulusan Madrasah Aliyah sepertiku yang tak mampu meneruskan pendidikan, menamatkannya saja dari belas kasihan kepala sekolah. Sungguh bukanlah mauku dilahirkan dalam keluarga miskin. Inilah takdir yang ku sandang. Ah, biarlah setidaknya aku bangga lahir dalam keluarga yang menomorsatukan agama serta selalu menanamkan budaya bersyukur atas segala realitas yang ada.
    Air yang tiap hari mengalir sesukanya mencari sudut-sudut terendah di sekitarku seakan juga membawa cita-citaku ikut terbenam bersamanya, mengalir entah kemana? Ke muara keputus asaan, ke jurang pengharapan. Entah!
    Ah, cita-cita itu seringkali membuka file-file usang yang tanpa sengaja terekam dalam otakku. Suatu malam saat di mana anak-anak kampung pulang menuju rumah sehabis mengaji dari Mushola ujung desa, melewati setapak makadam yang penuh batu terjal, temaram hanya sesekali cahaya kekunang menghiasi remang. Aku berjalan mundur di depan teman-temanku. Ku ubah letak kopyahku hingga hampir menutupi alis sambil kedua mataku mendelik seakan  ada kaca mata besar yang bertengger di hidungku. Lalu aku mulai berkata-kata seirama dengan gerak tanganku. “ Anak-anak! hidup ini seperti jalan makadam yang seiring kita lewati, penuh batu terjal, jika kita tak berhati-hati maka kita akan tersandung oleh terjalnya batu kehidupan itu sendiri. Arah rintangan senantiasa akan menghadang. Tinggal mampukah kita untuk menghadapi! ehemb ehemb !” aku meniru deheman khas Pak Karno , guru agama kami saat di Madrasah. “Anak-anak! kalian jangan takut akan gelap sebab sehabis gelap akan terbit terang, Gusti Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Enggeh opo enggeh!” . seraya semua temanku menjawab “enggeh pak guru!’.
    “sekarang tinggal bagaimana cara kita menyikapi setiap cobaan yang menimpa kita”. Saat ku dapati rumahku hampir sampai. “ Anak-anak! mungkin sekian saja pelajaran kita hari ini, semoga bisa bermanfaat. Jangan lupa belajar di rumah, Wassalamualaikum Wr Wb”. Serempak mereka menjawab “Waalaikumsalam Wr Wb” lalu mereka semua berlalu. Kami pun menuju rumah masing-masing. Suaraku hampir habis setelah berkoar koar disepanjang jalan tadi. Lekas saja ku raih kendi yang mengalirkan air ke tenggorokanku, menyempatkan rasa puasku bermain guru-guru_an. Aku sering merasa geli namun juga ada sejumput rasa bangga saat mengingat memori itu. Waktu itu mungkin hanya aku yang punya cita-cita untuk menjadi seorang guru dari sekian banyak teman-temanku. Mereka lebih banyak yang bercita-cita untuk menjadi anggota parlement dalam pemerintahan, seperti mentri, gubernur, bupati bahkan ada juga yang ingin menjadi presiden, namanya Saddam Husain, dia pernah berkata padaku “Tenang saja pak guru, nanti jika aku menjadi pressiden di negeri ini, akan aku angkat harkat dan martabat semua guru di Indonesia, termasuk sampeyan ha ha ha”. Inilah dunia kecil kami yang penuh dengan mimpi. Terserah orang berkata apa. Terima kasih Gusti Allah, karna engkau telah memberi kami keberanian untuk mempunyai mimpi walau entah engkau bawa kemana langkah kami kelak.
    Kenyataan yang aku hadapi sekarang tak seindah mimpi yang ku rajut dengan benang-benang asa yang kupunya dulu. Takdir seakan lantang berkata “ buang saja cita-citamu itu Nak, ke sudut terjauh antariksa. Kau tak akan mampu mewujudkannya, takdirmu hanya sebatas buruh, tak lebih!”. Mimpi yang ku pugar di sepanjang untaian tasbihku bagai merapuh luluh hanya karna intuisi-intuisi dari lidah takdir yang menjilat gumparan logika. Mozaik-mozaik terserak....pecah,,!
    Namun aku dan kerapuhanku mencoba sekuat tenaga untuk mengais serpihan asa yang tercecer di jalan setapak memori itu, kata-kata yang terucap dari bibir lugu yang tak pernah tahu masa depannya nanti entah seperti apa, kalimat serupa mantra yang ku sadur dari Sang Guru seakan mampu memberi energi magis atas absurditas mimpi yang kunamakan “Bagai Melukis Mimpi Di Bawah Senja Yng Muram”, energi itu mampu mencipta kalimat-kalimat penegasan atas sekian pertanyaanku “mungkin belumlah saatnya. Mungkin juga masih butuh perjuangan yang lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Gusti Allah ora demen lho pada orang yang putus asa. Yakinlah atas apa yang kau panjatkan dalam do’amu. Cita-citamu sungguh mulia nak ! berdamailah dengan kenyataan lalu rayulah ia agar mempermudah jalanmu”. Resah raguku meloncatdari kata perkata, kalimat perkalimat menuju kepuncak keyakinan atas setiap kemungkinan yang kelak menghampiriku. Semoga akan indah saat waktunya. Toh setidaknya saat ini aku bisa menjadi guru bagi diriku sendiri, melangkahkan kaki pada jalan yang diridhoi Gusti Allah, belajar bersyukur juga ikhlas noto ati serta sabar berjuang demi pendidikan untuk masa depan yang lebih baik dal lebih baik lagi.
    Biar saja letih senjaku ku gadaikan pada malam
    Biar esok mentari senantiasa terbit
    Menyinari pagi yang selalu ku tunggu cita-cita, cinta dan bahagia
    Dear God
    Please come lord, near at my side
    Come down and whisper near my heart
    I want to scream in your embrace
    When the sad twilight
    Comes down
    In my dream
    Pendaran cahaya dhuha memecah sisa-sisa embun di ujung pagi. Tempat kerjaku masih lengang, hanya sesekali kendaraan berlalu dengan orang-orang yang seperti dikejar waktu. Entah ini pagi yang keberapa, sejak pertemuan itu dengan seseorang yang dulu pernah menumbuhkan rasa hingga mekar di taman hatiku. Rasa yang kini masih tersimpan rapi di selipan kitab kalbuku. Rindu kian menjerat mengekang rasa. Ada bahagia menetes dari mata hati yang telah lama terpejam menikmati sepi sendiri. Rindu pada sebuah nama, Sabina Pramodya Ananta. Nama itu selalu bisa buat hatiku menajam pada satu titik yaitu setia.
    Entah ini hari apa?tanggal berapa?serta bulan apa?hanya yang ku tahu hari ini ada sepucuk surat yang dialamatkan padaku, entah dari siapa? Dan saat aku membukanya aku begitu terkejut ketika mendapati nama itu. Serat-serat dadaku bersemburat tak menentu. Berdetak dalam ritme-ritme ganjil. Mungkin surat inilah jawaban dari abjad-abjad rindu yang ku tulis di tepian sajadahku.

    Teruntuk : NawasyiqHarjuna Aly
    Nama yang telah mengajariku
    Nilai hidup, ikhlas dan cinta

    Ku hatur salam terindah dari kalbu paling rahasia. Aksara rindu yang ingin mengeja cinta dengan rasa yang masih ada.
    Maaf jika kedatangan surat ini telah mengganggu kessibukan Mas. Tapi untuk kebaikan kita nantinya., aku harap Mas berkenan membaca kata perkata yang ku tulis dengan linangan air mata.
    Setitik bahagia yang ku rasa saat pertemuan tanpa sengaja kita di bengkel tempat kerja Mas telah memberi kesempurnaan dalam hidupku yang hampir.... mungkin kata hampir lah yang pantas ku simpulkan untuk hidupku. Setelah pertemuan itu manik-manik cinta kembali menetes dari mata rabunku yang hampir buta karena tiap peristiwa yang menjejalkan epilog-epilog sepi dan monolog luka, mengejah wantahkan resah dan gelisah. Semua itu karna kamu Mas dan Mas pula yang kini telah mampu menghapusnya. Ada rindu yang menyelinap masuk dalam bilik-bilik hatiku setelah sekian lama kosong tanpa isi, tak ada lagu yang dulu sering ku dengar lewat petikkan gitarm. Kini semua seakan kembali mengisi kekosongan hatiku, itu kamu Mas!
    Ku rangkai kata per kata ini dengan linangan air mata bahagia sebab Tuhan masih berkenan memberi kesempatan padaku untuk bertemu dengan Mas di sisa-sisa nafas pencarianku, pencarian atas sebuah nama yang dulu pernah mengindahkan hari-hariku, merenda kisah-kisah tak bernama di taman bunga, di kantin sekolah, juga di lapangan sepak bola. Mungkin saat itu semua orang menganggapnya cinta monyet, tapi sungguh itulah cinta sebenarnya cinta yang ku rasa, kaulah cinta yang pertama dan terakhirku Mas.
    Mas lah yang selama itu mampu memberikan cinta yang apa adanya, tanpa syarat dan tanpa alasan, memberi motivasi agar aku tak menyerah pada penyakit yang selama ini aku derita, Mas bisa buatku tersenyum pada takdir yang menyebutku “Gadis Lemah Tak Berguna” kamulah motivator juga sang pencerah bagi hidupku, itu kamu Mas!.
    Hampir dua tahun lamanya setelah kenisbianmu, aku berteman dengan sepi, menikmati waktu sendiri hanya sesekali bayangmu mampir dalam kisah yang ku baca pada lembar mushaf kerinduanku lalu kembali nisbi, gelisah pun meneteskan kembali manik-manik cinta yang luka. Saat malam, selalu ku tunggu bintang tak bersayap yang dulu pernah Mas jajikan akan datang padaku, menghaturkan untaian salam darimu serta menceritakan kisahmu yang belum ku baca. Tapi apa! Hanya riuh lagu duka yang ku dengar, tak ada bintang itu, tak ada.....namun Sabina masih sedikit percaya bahwa bintang itu ada, mungkin ia tersesat di antara nebula. Ah biarlah!.. Mas, sungguh  aku bangga padamu. Saat pertemuan itu, saat kau ceritakan padaku tentang kisahmu, perjuanganmu untuk ibu dan adikmu, dan kini kau masih terus bekerja tanpa lelah demi menyisihkan uang untuk mendaftar ke perguruan tinggi walau ada sedikit kata pesimis yang terucap dari bibirmu “entah butuh waktu berapa lama dik, untuk mengumpulkan uang itu”, tapi masih ada secercah cahaya keyakinan yang bisa ku lihat dari sorot mata Mas. Mas yang ku kenal bukanlah pribadi yang mudah putus asa atas setiap kemustahilan. Aku telah beruntung mengenalmu Mas.
    Mungkin Mas tidak percaya jika saat Mas membaca tulisanku ini bahwa aku sudah berada di suatu dimensi yang akan memisahkan kita untuk selama-lamanya. Aku hanya berharap semoga kelak kita dipertemukan di surga. Aku punya satu permintaan pada Mas. Mungkin Mas akan terkejut saat mengetahuinya, tapi aku sangat berharap sekali Mas mau menerimanya. Beberapa waktu yang lalu aku sudah mendaftar ke sebuah perguruan tinggi di Lamongan, walaupun aku tahu umurku sudah tidak lama lagi. Itulah salah satu energi dari motivasi yang telah Mas berikan padaku bahwa hidup harus selalu optimis. Semua administrasi sudah diselesaikan oleh ayahku, aku telah berpesan pada ayah di saat yang ku anggap hari-hari terakhirku, di mana tubuhku hanya terbaring tak berdaya tapi aku masih punya sisa kekuatan di antara jemari rapuhku untuk mengetik huruf pada keyboard sehingga semua diamku bisa Mas baca. Aku berharap Mas mau melanjutkan pendaftaran itu, ayah akan mengatur semuanya. Melihat semangat Mas untuk meneruskan pendidikan seakan mampu memberi semangat padaku untuk bertahan dalam kesakitan ini walau mungkin hanya untuk beberapa hari. Mas telah beriku banyak hal yang melukiskan pelangi di sepanjang kisahku, terima kasih Mas. Cita-cita Mas sungguh mulia, aku sangat berharap Mas berkenan menerima permintaan terakhirku ini, semoga bisa menjadi jalan untuk mewujudkan cita-cita Mas. Memberi manfaat pada banyak orang, seperti kata Mas dulu.
    “Khoirunnaas anfa’uhum linnaas” sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi
    Bunga di batas senja
    Yang selalu berharap siraman do’a darimu
    Pramodya Sabina Lysistrata

    Bendungan perasaanku tak mampu lagi menghalau deras air mata. Serat-serat dinding hati tak kuat lagi menghela angin luka di jiwa. Gerakku beku dalam dimensi dan waktu. Absurditas cinta melemahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri. Latah sukmaku mengeja namanya dengan air mata ; Pramodya Sabina Lysistrata, cinta yang nyata, walaupun seribu nama datang menyepa hati. Ke ucap terima kasih dari dasar jiwa yang berair mata atas jawaban Tuhan yang dititipkan lewat cintamu. Jawaban atas do’aku selam ini. Tuhanku! Berikanlah dia tempat terindah di sisiMu. Amiiiiin!

    Ayo Kawan


    “KATA CINTA TERAKHIR”
    “UNTUKKU”

    Derak jantungku semakin cepat dan menjadi-jadi. Aku tak tahu apa yang akan terjadi?
    Semakin malam, hatiku semakin gelisah tetapi aku mencoba berfikir positif. “mungkin ini cuma kebetulan saja”.
    Ketika pagi menjelang, akupun bergegas pergi sekolah. Karena ini awal pagi yang menyenangkan. Setibanya di sekolah aku bertemu Mawar, dia adalah cewekku. Terlihat wajah yang berbeda dari biasanya, hatikupun bertanya “Mawar ada apa ys, tumben?”
    Bel istirahat yang aku tunggu tiba, biasanya Mawar sering ke kelasku tetapi kali ini dia tak kunjung datang. Perasaanku menjadi-jadi ........ aku khawatir dengan Mawar. Tanpa ada rencana, aku langsung menghampiri Mawar ke kelasnya, tetapi percuma tidak ada Mawar di sana.
    “Dev, Mawar kemana?” tanyaku kepada Devi sahabat dan juga teman sekelas Mawar.
    “Kamu cowoknya malah tidak tau kalau Mawar sedang sakit, dia tadi pulang diantar satpam,”  jawab Devi.
    Ternyata kekhawatiranku kali ini benar, dia jatuh sakit lagi.

    Tet...tet...tet... bel bunyi tanda istirahat sudah usaipun ku dengar. Aku langsung pergi ke kelas. Pelajaranpun mulai kembali, tetapi setiap ada pelajaran aku tidak dapat berkonsentrasi lagi. Hati dan perasaanku galau, tak sedikitpun tenang memikirkan kondisi Mawar. Mawar....Mawar....dan Mawar yang hanya ada di otakku.
    Bel pulang yang aku tunggu-tunggupun berbunyi, dan aku bergegas pulang. Setibanya di rumah, HP di tanganku bergetar, ternyata ada sms dari sahabat Mawar. “Angga, aku tadi dapat telepon dari Ibunya Mawar, ternyata Mawar sekarang dibawa dan dirawat di rumah sakit”. Setelah membaca sms Devi, hatikupun menjadi sangat gelisah. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas ke rumah sakit tanpa berganti pakaian.
    Aku bertemu Devi sudah di depan ruang rawat Mawar. Devi sedang menangis. Melihat itu, hatiku semakin cemas dan bingung, apa yang terjadi???
    “Dev, ada apa dengan Mawar???
    Pintu rawat Mawar aku buka secepat mungkin. Ternyata dokter sedang memeriksa Mawar dan mengatakan kalau Mawar menderita kanker otak yang sangat parah stadium 4.
    Air matakupun tak dapat ku bendung lagi, semuanya aku tumpahkan dalam pelukan Mawar yang terbaring tak berdaya.
    Aku tak menyangka Mawar yang sangat ceria, sekarang terbaring lemas tak berdaya.
    Aku melihat jam sudah menunjukkan pul tiga sore atau pukul 15.00, akupun pulang dari rumah sakit. Tepat hari Minggu aku menjenguk Mawar lagi, tetapi Mawar tertidur pulas. Akupun tetap memandangnya karena aku tak tega untuk membangunkannya.
    Setelah beberapa minggu Mawar dirawat di rumah sakit, dan pada hari Senin dia sudah masuk kembali untuk bersekolah. Wajahnya sudah kembali ceria dan berseri-seri seperti biasanya.
    Aku tak menduga Mawar sembuh begitu cepat. Aku sanagt senang melihat kesembuhan Mawar, tetapi kenapa dia tak sedikitpun menghiraukan aku, “apa karena penyakit kanker pada otaknya sehingga memori indah bersamaku hilang begitu saja.......???”
    “Ahhh... itu tidak mungkin terjadi” ucapku sambil aku menyadarkan diri dari lamunanku.
    Setiap aku bertemu Mawar, tak sedikitpun Mawar melihatku. Dia malah memalingkan wajahnya. Tak ada senyum yang berkembang lagi untukku dari Mawar. Hatiku gelisah dan takut dengan semua ini. Aku takut jika dugaanku kali ini benar lagi.
    “Dia lupa....”
    Waktu terus berputar, hari terus berganti tetapi Mawar tak sedikitpun berubah seperti dulu. Aku mencoba untuk memberi Mawar waktu agar semuanya kembali seperti dulu lagi.
    Ketika pelajaran pertama dimulai, HP dikantongku bergetar. Waktu ku lihat...
    “Nanti pulang sekolah, tunggu aku di gerbang.” Sms dari Mawar, yang dikirimnya kepadaku sampai berulang empat kali.
    Aku tak sempat membalasnya. Dan sesekali aku memandang jam. “ayo...cepat...cepat...”kata-kata itu yang ada di pikiranku . aku ingin bertemu Mawar, aku rindu dia.
    Tet....tet....tet... bel tanda waktu pulang yang sangat ku tunggu akhirnya berbunyi. Akupun bergegas keluar dan menemui Mawar di gerbang sekolah.
    Tetapi,apa yang ku lihat, dia tak ada di situ. Aku sangat kecewa.
    “Apa dia cuma ingin mangerjaiku?”

    Drttt...tttt.....tttt...getar HP ku ternyata sms dari Mawar.
    “Angga, maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji.” “Apa kamu masih mencintaiku? Karena aku menderita penyakit kanker otak yang sangat parah, dan hidupku juga tinggal menghitung hari saja.”
    “Aku selalu mencintaimu Mawar, bagaimanapun kamu sekarang seselit apapun kamu sekarang, Percayalah” hanya kata-kata itu yang terlontar.
    Ketika aku duduk di kantin sekolah, Devi mengajak aku untuk ke rumah sakit. Ternyata penyakit Mawar kambuh lagi, dia dirawat lagi di sana.
    Aku tetap menunggu Mawar di rumah sakit. Tepat pukul empat pagi (04.00), Mawar menangis melihatku sedang mengaji di sampingnya.
    “Angga aku ingin ke taman?” Mawar meminta dengan nada berbisik.
    “Ayo, kita kesana jika kamu memintanya.” Kataku sambil membopong Mawar.
    Aku dan Mawar duduk bersama di taman, melihat bunga-bunga yang sedang mekar. Dia tidur di bahuku, sambil membisiku satu kata indah “Angga aku sayang kamu”. Akupun hanya menjawab dengan senyuman manis.
    Ketika pagi datang, Mawar ingin kembali ke kamarnya. Dia tertidur nyenyak tak seperti biasanya. Akupun memanggil dokter, ternyata Mawar lagi-lagi ngedrop. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Aku tak menyangka, dia terbangun dan membelai lembut rambutku, sambil berkata “AKU CINTA KAMU”
    Oksigen mawar mendadak berhenti, mata Mawar terpejam seakan tidur untuk selamanya. Dokter dan suster ku panggil cepat...cepat...!!!
    “Sabar ya..., dia sudah pergi jauh” kata dokter.
    Mendengar kata-kata itu, aku tak percaya.
    “Mawar .....Mawar....Mawar .....!!! jangan tinggalkan aku”
    “Aku juga cinta kamu, tetapi kenapa kamu pergi” teriakku sambil berusaha membangunkan Mawar.
    Tak ada gunanya, Mawar sudah pergi untuk selama-lamanya.
    “Mawar, asal kamu tau aku sangat mencintaimu. Ragamu tak ada di sini, tapi kau selalu ada di dalam hatiku untuk selamanya. Mawar... AKU CINTA KAMU....!!!”


    BY : RICA ISTIQAMAH